IntenNews.com | Sumut - Di negeri yang sinyalnya lebih cepat dari langkah aparatnya, kabar tentang peredaran narkoba justru lebih dulu beredar di beranda Facebook daripada sampai ke meja penyidik. Status demi status berteriak, komentar demi komentar menunjuk arah, nama-nama beredar seperti asap yang sulit ditangkap. Tetapi anehnya, yang berseragam seolah menunggu angin membawa laporan resmi ke depan pintu.
Padahal dunia maya hari ini bukan sekadar ruang bercanda. Ia telah menjadi pasar informasi, pos ronda digital, tempat warga berteriak ketika malam terlalu sunyi untuk didatangi patroli. Di sana, jejak-jejak transaksi, kode-kode, hingga titik-titik pertemuan kerap terbuka, meski tersamar. Namun layar-layar itu seperti tidak pernah menjadi peta bagi mereka yang mengaku pemburu jaringan.
Sat Narkoba, yang seharusnya membaca denyut peredaran seperti dokter membaca nadi pasien, justru tampak menunggu stetoskop bernama “laporan resmi”. Seolah tanpa kertas pengaduan, narkoba tidak beredar. Seolah tanpa tanda tangan pelapor, racun itu tidak mengalir ke tubuh generasi.
Ironi pun tumbuh, masyarakat diminta menjadi mata dan telinga, tetapi mata yang melihat di media sosial dianggap tidak cukup nyata. Telinga yang mendengar dari percakapan digital dianggap belum layak menjadi petunjuk. Maka lahirlah kesan dan kesan adalah bahasa publik,bahwa tindakan baru bergerak setelah laporan masuk, bukan setelah informasi terbaca.
Padahal, di zaman algoritma, kepekaan bukan lagi soal menunggu, melainkan soal memantau. Intelijen bukan hanya menyusup ke gang-gang gelap, tetapi juga ke kolom komentar. Ketegasan bukan hanya di konferensi pers, tetapi pada kemampuan membaca tanda sebelum menjadi peristiwa.
Jika aparat ingin perang total, maka medan tempurnya tidak hanya di jalanan, tetapi juga di jaringan. Jika ingin menyempitkan ruang gerak bandar, maka jangan biarkan mereka leluasa beriklan dalam bahasa sandi di media sosial sementara penegak hukum sibuk menunggu pintu diketuk.
Sebab narkoba hari ini bergerak secepat unggahan, dan aparat yang lambat membaca hanya akan menjadi penonton di panggung yang seharusnya mereka kuasai.
Masyarakat tidak menuntut keajaiban. Mereka hanya ingin melihat bahwa seragam tidak kalah peka dari layar, bahwa kewenangan harus cepat menanggapi tiap kabar yang diunggah masyarakat di dunia maya.
SigondrongDalamDiam
Seniman Labuhanbatu
