|


Satu Tahun Menata Kota Dengan Kata, Lupa Membangun Desa Dengan Nyata

Foto : SigondrongDalamDiam
IntenNews.com - Labuhanbatu -
Satu tahun telah berlalu sejak sang Bupati mengangkat tangan, bersumpah di bawah lambang negara di bawah kitab sucinya. Bupati yang penuh mantap saat kampanyenya dengan motto “Menata Kota, Membangun Desa.” Sebuah kalimat yang terdengar seperti doa, seperti janji musim semi ala drama romantis Korea. 

Namun hari-hari berganti, baliho memudar, dan Kota masih semrawut oleh kabel-kabel yang menggantung seperti pikiran yang tak pernah dibereskan. Parit-parit tetap mampet, jalan berlubang menjadi cermin kecil setiap hujan turun. Di sudut pasar, pedagang sembarut terpandang. 

Desa pun tak banyak berubah tetap asri jalan nya dengan nuansa lumpur nya. Tak ada sawah yang tercetak baru di Desa - Desa sebagai penopang program swadaya pangan. Sawah masih bergantung pada langit, irigasi tak kunjung diperbaiki. Anak-anak berjalan jauh ke sekolah dengan sepatu yang menipis. 

Kata membangun seperti berhenti di atas kertas proposal, tak pernah turun menjadi batu, semen, dan keringat. Barangkali menata Kota dianggap cukup dengan menata seremoni. Barangkali membangun Desa diartikan sebagai membangun citra. Kamera lebih rajin berkeliling daripada alat berat. Media sosial lebih sibuk daripada Dinas Pekerjaan Umum. Setiap unggahan dipoles rapi tetapi jalanan dibiarkan gelap tanpa cahaya dan kerapian. 

Rakyat tak menuntut keajaiban. Mereka hanya ingin kesungguhan. Mereka tahu perubahan tak datang dalam semalam, tetapi juga tahu mana kerja yang sungguh - sungguh dan mana yang sekadar sibuk terlihat bekerja. Mereka bisa membedakan antara rencana dan alasan. 

Satu tahun adalah cermin awal. Di sana tampak apakah janji akan tumbuh menjadi kebijakan, atau layu menjadi slogan. Menata Kota, membangun Desa bukan sekadar rangkaian kata, merawat Kota, membangun Desa adalah tanggung jawab yang menuntut keberanian mengambil keputusan, ketegasan melawan kebiasaan lama, dan kejujuran pada diri sendiri. 

Jika tidak, maka yang tertata hanya panggung, dan yang terbangun hanyalah narasi. Sementara Kota dan Desa tetap menunggu, seperti ladang yang setia pada musim, berharap suatu hari benar-benar disentuh oleh kerja, bukan hanya oleh kata bijak ciptaan penyair politik pelacur.

SigondrongDalamDiam

*Seniman LabuhanBatu*

Komentar


Berita Terkini