IntenNews.com | Sumut - Berita dari Nusa Tenggara Barat adalah tamparan bagi angin yang malas bergerak di bumi nusantara khususnya di Sumatera Utara. Sebab keseriusan itu tidak berhenti di spanduk, tidur di baliho, dan menguap di ruang konferensi pers yang berjalan lancar. Nusa Tenggara Barat itu berani menyentuh tembok yang selama ini dianggap terlalu tinggi untuk disentuh. Bahkan ketika tembok itu bernama jabatan dan uang
Sementara itu di sini, di Sumatera Utara, Mulai dari jalan utama sampai gang-gang sempit bahkan gang buntu. Kabut itu masih tebal dan kian tebal. Orang-orang kecil ditangkap seperti ikan teri di jaring. Tahu sama tahu sementara hiu berenang santai di belakang kapal patroli pura-pura tak tahu
Andaikan keseriusan itu bisa dikirim lewat kapal, Mungkinkah dari Nusa Tenggara Barat akan berlabuh di Sumatera Utara. Datang membawa kabar bahwa hukum hanya berkawan dengan keadilan. Sehingga tak lagi menjadikan seragam menjadi tameng, untuk pundi-pundi kekayaan pribadi di ladang-ladang haram.
Aku membayangkan jika semangat yang sama berlabuh di Sumatera Utara. Aku membayangkan jika keberanian tidak hanya hidup di pidato, tetapi juga di berkas perkara. Tapi mungkinkah? Mereka yang berseragam ikut membayangkan. Jika seragamnya bukan sekadar kain yang disetrika rapi. Melainkan komitmen yang tak bisa dilipat saat berhadapan dengan jaringan seragamnya sendiri. Ah..indahnya, karena bisik yang berulang terulang selama ini, “Ini dari kami untuk kalian maka rusaklah mereka,”. Pastilah dapat dihentikan terhentinya.
Hukum seharusnya berdiri tegak seperti tiang pelabuhan. Bukan condong mengikuti arus, Ia harus berani membersihkan rumahnya sendiri. Sebelum menyapu halaman orang lain
Andaikan, keberanian penegakan hukum itu merata hidupnya. Mungkin banyak pemuda-pemudi tak perlu belajar tentang penjara, sebelum sempat mengenal cita-cita. Mungkin lebih banyak tangan memegang buku dan sudah pasti banyak orang tua tersenyum bahagia. Dan juga pasti banyak rumah tangga yang diselamatkan dari kehancuran. Karena genggaman plastik kecil si mesin kehancuran bermerek "Sabu-sabu".
Di Sumatera Utara tidak kekurangan slogan. Tidak juga kekurangan operasi. Bahkan konferensi pers selalu lancar dengan barang bukti yang disusun seperti pajangan toko. Namun publik sering bertanya "Apakah keberanian itu berhenti di pagar halaman sendiri?".
Dari Nusa Tenggara Barat kita semuanya menjadi tahu. Satu tindakan tegas lebih berharga daripada seribu slogan perang melawan narkoba, yang hanya hidup di spanduk dan konferensi pers. Kapolresnya jatuh, Kasat nya pun tersungkur, anggota polisinya terkubur. Ketika bukti berbicara lebih nyaring dari pangkat di pundak, seperti hukum terlihat sedang memberi hukuman. Maka ketika ada daerah yang berani menindak sampai ke dalam tubuhnya sendiri, publik melihat harapan bahwa hukum masih bisa menegur cermin. Sebab keadilan yang hanya tajam ke luar tapi tumpul ke dalam karena hanya drama yang dipentaskan berulang-ulang selama ini
Andaikan, keseriusan itu menular seperti kabar buruk yang cepat sampai ke warung kopi. Atau menular seperti keresahan ibu-ibu yang takut anaknya pulang larut malam dan menularnya seperti doa seorang ayah dalam kehidupan yang dijalaninya. Yang ingin apa yang dialaminya cukuplah hanya ia yang mengalami, janganlah sampai anak-anaknya mengalami juga.
Mungkin, Pemberantasan narkoba tidak lagi berbicara tentang wilayah mana yang paling rawan. Melainkan wilayah mana yang paling berani membersihkan diri. Karena pada akhirnya, perang melawan narkoba bukan soal siapa paling lantang berteriak. Melainkan siapa yang paling berani menyalakan lampu di ruang gelap. Meski yang terlihat di sana hanyalah bayangannya sendiri
SigondrongDalamDiam
*Seniman LabuhanBatu*
.jpg)