|

Karena Membangun Daerah Bukan Sama Menyodok Di Meja Billiard

IntenNews.com | Labuhanbatu- Ada pemandangan menarik yang digawai masyarakat khususnya Kabupaten Labuhanbatu. Di tengah hiruk-pikuk negeri yang katanya sedang sibuk membangun jarkon kota idaman dengan Menata Kota Membangun Desa yakni sebuah pemandangan bermain Billiard. Sebenarnya pemandangan bermain Billiard adalah hal biasa terlebih sejak Persatuan Olahraga Billiard Seluruh Indonesia (POBSI) di jakarta pada 9 Oktober 1953 berdiri maka resmi jugalah billar menjadi salah satu cabang olahraga

Namun pemandangan bermain Billiard yang viral di beberapa plafon media sosial itu menjadi hal yang dibesar-besarkan karena yang bermain bola sodok tersebut adalah orang nomor satu di Kabupaten tersebut yaitu Bupati dan Kapolres. 

Tentu saja, jangan buru-buru berpikiran negatif, mungkin ini bagian dari strategi pemerintahan dalam menjaga kondisi daerah yang dipimpinnya agar terkesan baik-baik saja, sebab bisa jadi di zaman sekarang, membangun daerah rupanya tidak cukup dengan rapat yang ujung-ujungnya hanya sosialisasi program kerja dengan turun ke lapangan yang berujung tetap menghamburkan anggaran dengan hasil nol kerja. Atau juga jadi bisa jurus latihan memukul bola di permainan Billiard Bupati dan Kapolres tersebut adalah jurus tepat mengatasi masalah tanpa masalah. 

Bola putih dipukul, bola lain bergerak. Indah sekali bukan, walau sayangnya, rakyat tidak hidup di atas meja biliar tapi hidup dalam ketidakpastian akan janji-janji selama menduduki jabatan. 

Rakyat hidup di jalan yang berlubang, kendaraan harus bermanuver menghindari kubangan atau paling remis melaju pelan-pelan seperti mengikuti kompetisi biliar versi jalan raya: salah sedikit, bisa masuk lubang. 

Di kota yang menggadang-gadangkan menata kota membangun desa,kesemrawutan menjadi pemandangan biasa sehari-hari, jalan macet di jam-jam tertentu, parkir semrawut, bahkan ruang publik satu-satu di kabupaten yang terdiri dari sembilan kecamatan ini jauh dari kata berantakan melainkan hancur-hancuran yakni taman kota Binaraga yang kini berubah jadi taman hantu. Kota ini seperti sedang mengikuti lomba tata kota dengan aturan yang sengaja disembunyikan dari masyarakat sebagaimana anggaran yang sejatinya harus dikembalikan lagi kepada masyarakatnya namun masuk ke kantong pejabatnya. 

Sementara itu, persoalan narkoba terus menjadi sangsai yang tak berujung sudahnya sebab penanganannya dikategorikan sebagai pertandingan yang tak pernah selesai walaupun penangkapan selalu ada dalam tiap bulan bahkan minggunya sehingga yang berubah hanyalah laporan guna memperbarui statistik pada zona.Disinilah hebatnya penegakan hukum pemberantasannya ibarat master Billiard yang pandai memegang stik biliar membidik bola putih namun tak tajam membidik bola terakhir bola penentu yakni jaringan narkoba khususnya bandar-bandar besarnya. 

Belum lagi soal bahan makanan yang dijajakan di pasar gelugur, sejak program MBG itu ada semua pada naik sedangkan standar upah hanya statistik menjaga marwah kabupaten agar tidak inflasi,hingga masyarakat dengan kalau naiknya kebutuhan sehari-hari membuat kepala bergizi karena banyak pikiran namun pejabat-pejabatnya tak pernah evaluasi. 

Pertanyaannya sangat sederhana: 

Apakah bermain Billiard benar-benar bagian dari tugas membangun daerah? 

Jika yang digadang-gadangkan untuk mendorong investasi serta membuka lapangan kerja dan untuk pembinaan atlet mengapa tidak sekalian saja untuk menarik minat wisatawan guna berkunjung ke taman Binaraga. 

Hingga mungkin perlu dibuat indikator kinerja baru. 

Berapa bola masuk? 

Berapa kali menang? 

Berapa banyak pertandingan? 

Dan yang paling penting berapa investor yang telah menanamkan modal untuk pembangunan, berapa lapangan kerja yang terserap dan berapa atlet yang terbina juara di kabupaten ini setelah pertandingan usai 

Sebab rakyat tidak membutuhkan pejabat yang sekadar terlihat sibuk. 

Rakyat membutuhkan jalan yang layak, kota yang tertata, pangan yang terjangkau, dan lingkungan yang aman dari narkoba. 

Biliar boleh saja menjadi hiburan.bahkan boleh menjadi ruang membangun komunikasi tetapi jangan sampai meja Billiard menjadi lebih mulus daripada jalan yang dilalui rakyat,jangan sampai bola-bola di atas meja lebih cepat bergerak daripada pembangunan di lapangan. 

Dan jangan sampai pemerintahnya sibuk menghitung skor permainan, sementara rakyat setiap hari menghitung lubang jalan, menghitung harga kebutuhan pokok, dan menghitung kapan kotanya benar-benar dibenahi dan pembangunan bukan permainan yang cukup selesai dengan tepuk tangan. 

SigondrongDalamDiam

*Seniman LabuhanBatu*


Komentar


Berita Terkini