|


Polemik KAMMI Tanjungbalai Memanas, Yusuf: Rizqalsya Toyibi Pemegang Mandat Kepemimpinan yang Terlegitimasi


IntenNews.com|-TANJUNGBALAI –
Polemik kepemimpinan KAMMI Tanjungbalai belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah saling klaim mengenai keabsahan hasil Musyawarah Daerah (Musda) IV, Demisioner Ketua Umum PD KAMMI Tanjungbalai, Yusuf, secara tegas menyatakan bahwa kepemimpinan yang ia yakini memiliki legitimasi organisasi berada di bawah komando Rizqalsya Toyibi.


Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap berbagai klaim yang berkembang pasca Musda IV dan pelantikan kepengurusan yang masih menjadi perdebatan di kalangan kader. Menurut Yusuf, persoalan yang terjadi hari ini bukan sekadar perebutan legitimasi, melainkan menyangkut kepatuhan terhadap konstitusi organisasi dan proses yang melahirkan kepemimpinan itu sendiri.


"Jangan berbicara terlalu jauh soal legalitas jika proses yang melahirkannya masih dipertanyakan kader. Organisasi kader tidak dibangun di atas klaim, tetapi di atas aturan yang harus dihormati bersama," tegas Yusuf.


Menurutnya, sejumlah kader sejak awal telah menyampaikan catatan terhadap pelaksanaan Musda IV. Karena itu, ia menilai tidak tepat apabila kritik yang muncul dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap organisasi, padahal yang dipersoalkan adalah mekanisme dan proses yang berlangsung.


Di tengah dinamika tersebut, Yusuf mengungkapkan bahwa para demisioner bersama unsur kepengurusan wilayah melakukan konsolidasi organisasi guna memastikan tidak terjadi kekosongan kepemimpinan dan stagnasi kaderisasi di tingkat daerah. Dari proses konsolidasi itulah, kata dia, Rizqalsya Toyibi diberikan mandat untuk memimpin dan menjalankan roda organisasi.


"Mandat itu lahir dari konsolidasi, bukan dari ambisi pribadi. Tujuannya jelas, memastikan organisasi tetap berjalan, kaderisasi tetap hidup, dan gerakan tetap hadir di tengah masyarakat," ujarnya.


Yusuf juga menyoroti kecenderungan sebagian pihak yang menurutnya lebih fokus membangun narasi kemenangan dibanding menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di kalangan kader. Ia menilai bahwa organisasi yang sehat seharusnya mampu menjawab kritik dengan argumentasi dan konstitusi, bukan sekadar dengan pengklaiman.


Lebih lanjut, ia mengajak seluruh kader untuk kembali membuka AD/ART dan memahami filosofi gerakan KAMMI secara utuh. Menurutnya, konstitusi organisasi harus menjadi rujukan utama dalam setiap pengambilan keputusan, bukan hanya dijadikan alat pembenaran ketika muncul perbedaan pandangan.


"Kader harus berani berpikir kritis. Jangan sampai loyalitas kepada kelompok mengalahkan loyalitas kepada konstitusi organisasi. Sebab yang harus dijaga bukan figur, melainkan marwah organisasi itu sendiri," katanya.


Menurut Yusuf, sejarah organisasi akan menilai bukan siapa yang paling sering mengklaim dirinya sah, melainkan siapa yang mampu menjaga kaderisasi, merawat persatuan kader, dan tetap konsisten menjalankan organisasi sesuai nilai-nilai perjuangan yang menjadi fondasi gerakan.


Di tengah polemik yang terus berkembang, kubu Rizqalsya menegaskan akan tetap fokus menjalankan kaderisasi dan agenda pengabdian kepada masyarakat. Mereka menilai bahwa legitimasi sejati tidak lahir dari perang pernyataan di media, tetapi dari kepercayaan kader dan kerja nyata yang dirasakan oleh masyarakat.


"Pada akhirnya, kader akan menilai sendiri siapa yang menjaga konstitusi dan siapa yang hanya sibuk mempertahankan klaim. Waktu akan menjawab semuanya," tutup Yusuf.(Red/R).

Komentar


Berita Terkini