|


Siskamling Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Senjata Nyata Melawan Begal

IntenNews.com | Medan - Di saat begal semakin berani beraksi bahkan di depan mata, pertanyaannya sederhana: masyarakat mau terus jadi penonton, atau mulai jadi penjaga?

Kita terlalu lama bergantung pada aparat, seolah keamanan itu sepenuhnya tanggung jawab negara. Padahal, realitanya kejahatan bergerak cepat, sementara respon seringkali datang terlambat. Di celah itulah begal tumbuh subur—karena mereka tahu, lingkungan kita kosong, lengah, dan tidak siap.

Siskamling atau patroli kampung sering dianggap kuno. Padahal justru di situlah kekuatan sebenarnya. Kehadiran warga di malam hari bukan sekadar ronda, tapi pesan tegas: “Kampung ini tidak tidur, dan bukan tempat empuk untuk kejahatan.”

Masalahnya, banyak lingkungan hari ini lebih sibuk dengan urusan masing-masing. Pagar tinggi, CCTV mahal, tapi tetangga tidak saling kenal. Ironis—aman secara fisik, tapi rapuh secara sosial.

Begal tidak takut lampu jalan. Mereka takut pada kebersamaan.

Patroli kampung yang terorganisir, dengan jadwal jelas, koordinasi dengan aparat, dan keberanian warga untuk peduli, jauh lebih efektif daripada sekadar mengandalkan laporan setelah kejadian. Ini bukan soal gaya lama atau baru—ini soal hadir atau tidak saat kejahatan datang.

Tentu, siskamling bukan berarti main hakim sendiri. Justru harus cerdas: mengamati, melapor, dan mencegah. Keamanan bukan soal nekat, tapi soal sistem yang hidup di tengah masyarakat.

Kalau kampung mulai kompak, begal akan berpikir dua kali. Kalau warga tetap diam, begal akan terus datang.

Pilihan ada di kita: mau hidup dalam ketakutan, atau mulai menyalakan kembali ronda yang sempat kita matikan sendiri.


DianWahyudi

SiAnakKampung

Komentar


Berita Terkini