Seorang remaja, Endiy Syahputra (19), harus menjadi korban keganasan komplotan begal bersenjata tajam. Sepeda motor Honda Scoopy baru miliknya dirampas secara paksa saat ia sedang duduk santai di pinggir jalan bersama rekannya.
Ironisnya, aksi tersebut dilakukan oleh lima orang pelaku yang datang menggunakan dua sepeda motor (Honda Beat dan Honda Vario), dengan leluasa dan tanpa rasa takut. Para pelaku bahkan membawa senjata tajam, seolah menunjukkan bahwa jalanan sudah tidak lagi aman bagi masyarakat.
Korban yang berada dalam kondisi terancam tidak mampu berbuat banyak. Demi menyelamatkan nyawanya, ia terpaksa merelakan sepeda motor tersebut dibawa kabur. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga trauma mendalam bagi korban.
Kehadiran Babinsa Kelurahan Terjun, Serka Ari Wahyudi, di lokasi kejadian menjadi satu-satunya respon cepat di lapangan. Ia menyarankan korban untuk segera melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Medan Labuhan.Namun, kejadian ini kembali memunculkan pertanyaan besar: di mana rasa aman bagi masyarakat? Aksi begal yang dilakukan secara terang-terangan dan berulang menunjukkan adanya celah serius dalam pengawasan dan penindakan di wilayah ini.
Warga kini semakin resah. Mereka mendesak aparat kepolisian untuk tidak hanya menunggu laporan, tetapi aktif melakukan patroli dan tindakan tegas terhadap para pelaku kejahatan jalanan yang kian merajalela.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin korban berikutnya akan kembali berjatuhan.
(Red)
