|


Ganti itu Kasat Damkar Ika Bina Enpa Bolo

IntenNews.com | Labuhanbatu - Kecil Jadi Kawan Besar Jadi Lawan, api selalu punya dua wajah, menghangatkan sekaligus menghanguskan dan di Labuhanbatu, nyala api itu bukan sekadar peristiwa akan tetapi menjelma ingatan, luka, dan pertanyaan yang tak kunjung padam. 

Kita masih mengingat September 2011 ketika ledakan tangki di SPBU Simpang Mangga merenggut satu nyawa dan membuat tiga lainnya terbaring di ambang batas antara hidup sekarat atau mati. Itu bukan sekadar kebakaran; itu adalah jeritan jiwa yang terbakar bersama harapan. Lalu waktu berjalan, seolah abu telah dingin, tetapi ternyata bara tak pernah benar-benar mati sampai saat ini. 

November 2022,enam rumah di Jalan Ki Hajar Dewantara luluh lantak dalam tarian dan nyanyian api yang berkobar, pada dinding-dinding yang dulu menyimpan tawa berubah jadi arang. Kerugian ditakar dengan meteran kepastian menunjukan pada bilangan angka Rp.1 miliar, namun siapa yang bisa menakar kehilangan kenangan? Siapa yang mampu menghitung nilai sebuah masa kecil yang hangus bersama lemari dan foto keluarga?. Tidak ada siapa pun yang mampu kenakar pastinya kehilangan akibat api. 

Belum selesai luka itu, masih dalam tahun yang sama yakni September 2022 menghadirkan kobaran lain di Jalan Sirandorung. Delapan rumah di kawasan padat penduduk lenyap dalam waktu sesingkat-singkatnya ibarat teks proklamasi, Api itu seperti tak memberi jeda bagi manusia untuk belajar pada manusia yang enggan untuk belajar. 

Dan akhirnya, di tahun ini April 2026 tepatnya di Lingkungan Bakti Lama yang menjadi saksi. Sepuluh rumah tersentuh amarah si jago merah berubah tujuh rusak berat, tiga lainnya luka ringan. Namun ini bukan sekadar angka. Ini adalah potret paling dramatis tragisnya bagi mereka yang lahir dan besar di tanah ini bumi ika enpa bolo Sebuah peristiwa ini menceritakan tak tak hanya membakar kayu dan beton, tetapi juga membakar rasa percaya terhadap penguasa yang memegang kebijakan. Hingga menimbulkan pertanyaan menjadi lebih panas daripada api itu sendiri. " Apakah ini murni takdir, atau ada kelalaian yang diam-diam ikut menyulutnya?". 

Ketika api datang, seharusnya kesiapsiagaan hadir lebih dulu dengan asap hitam sebagai pertandanya, Namun yang terlihat justru keterlambatan, ketidaksiapan bahkan mungkin ketidakpedulian yang dibungkus rutinitas birokrasi. Pemerintah daerah harusnya paham, khususnya dinas pemadam kebakaran harusnya lebih memahami bukan sekadar institusi. Ia adalah harapan terakhir ketika warga tak lagi punya apa-apa selain doa dan ember berisi air. Jika harapan itu lambat datang, atau bahkan tak siap hadir, maka yang terbakar bukan hanya rumah melainkan kepercayaan publik. 

Bupati, dalam hal ini, memikul beban yang lebih dari sekadar jabatan. Ada tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap sirene yang meraung benar-benar membawa pertolongan, bukan sekadar formalitas. Evaluasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Sebab api tidak pernah menunggu manusia untuk siap-siap memadamkannya tetapi manusia seharusnya selalu siap sebelum api datang. 

Kebakaran memang bukan musibah yang hadir setiap hari. Namun justru karena itulah, kesiapan menjadi harga mati. Sebab satu kali kelalaian, bisa berarti puluhan kehidupan berubah selamanya. Di Labuhanbatu, api telah berkali-kali berbicara. Kini giliran manusia yang harus menjawab: apakah kita akan terus menjadi penonton dari tragedi yang berulang, atau mulai belajar agar tak lagi ada rumah yang berubah menjadi cerita duka?. 

Satu solusi yang harus diambil dengan tegas oleh Bupati Maya yang kini menjabat dan memiliki kuasa.: " Ganti " itu " Kasat Damkar Ika Bina Enpa Bolo".

SigondrongDalamDiam

SenimanLabuhanBatu

Komentar


Berita Terkini