|


Mau Kaya? Jangan Jadi Wartawan

IntenNews.com | Medan - Menjadi wartawan sejatinya bukan jalan cepat menuju kekayaan. Profesi ini lahir dari idealisme, keberanian, dan tanggung jawab sosial. Wartawan dituntut turun ke lapangan, menggali fakta, menghadapi tekanan, bahkan kadang mempertaruhkan keselamatan demi sebuah kebenaran yang layak diketahui publik.

Namun di zaman sekarang, muncul ironi yang menyakitkan. Ada yang masuk ke dunia jurnalistik bukan karena panggilan nurani, tetapi karena berharap akses, pengaruh, dan keuntungan pribadi. Akibatnya, profesi wartawan perlahan kehilangan marwah ketika sebagian oknum lebih sibuk mengejar “cuan” dibanding memperjuangkan fakta.

Padahal sejak dulu, dunia pers bukan tempat untuk hidup bermewah-mewahan. Wartawan sejati lebih akrab dengan tekanan, kritik, dan perjuangan daripada kemewahan. Karena itu ada ungkapan sinis yang sering terdengar di tengah masyarakat:

“Kalau mau kaya, jangan jadi wartawan.”

Kalimat itu bukan penghinaan, melainkan pengingat bahwa jurnalistik adalah profesi pengabdian. Ketika orientasi utama sudah bergeser menjadi uang, maka independensi mudah tergadaikan. Berita bisa berubah menjadi alat kepentingan, kritik bisa dibungkam, dan fakta bisa diperjualbelikan.

Pers yang sehat lahir dari wartawan yang menjaga integritas, bukan dari mereka yang menjadikan kartu pers sebagai alat mencari keuntungan pribadi. Sebab begitu kepercayaan publik hilang, maka habislah nilai dari profesi itu sendiri.

Wartawan mungkin tidak selalu hidup bergelimang harta. Tetapi ketika ia tetap jujur di tengah godaan, tetap berdiri di pihak fakta di tengah tekanan, dan tetap menyuarakan kepentingan publik tanpa pesanan, di situlah letak kehormatan yang tidak bisa dibeli dengan uang.


Pauh,09Mei2026

DianWahyudi

SiAnakKampung

NB : Tulisan ini bertujuan menumbuhkan minat untuk membaca


Komentar


Berita Terkini