|




Naas Si Penjilat dan Nasib Si Pembangkang


IntenNews.com | 11/04/2026
- Dalam dinamika kekuasaan, selalu ada dua tipe manusia yang menonjol: penjilat dan pembangkang. Keduanya berjalan di jalur yang berbeda, dengan cara yang kontras, namun sering kali berada dalam panggung yang sama. Ironisnya, nasib keduanya kerap berbanding terbalik dari apa yang terlihat di permukaan.

Penjilat hidup dari pujian yang berlebihan. Ia pandai membaca keinginan atasan, lihai memoles kata, dan tak segan menanggalkan prinsip demi posisi. Di awal, langkahnya tampak mulus. Ia dekat dengan kekuasaan, mudah mendapat akses, bahkan kerap dipercaya. Meski bukan karena kapasitas, melainkan karena kesetiaan yang semu. 

Namun, sejarah menunjukkan satu hal: kekuasaan yang dibangun di atas kepalsuan tidak pernah kokoh. Ketika angin berubah arah, penjilat menjadi yang pertama ditinggalkan. Ia tidak punya pijakan, karena sejak awal tidak berdiri di atas integritas.

Berbeda dengan pembangkang

Ia sering dicap keras kepala, tidak tahu diri, bahkan dianggap pengganggu stabilitas. Suaranya mungkin tidak disukai, sikapnya kerap membuat resah. Tapi pembangkang memiliki satu hal yang tidak dimiliki penjilat: keberanian untuk berkata benar. Ia memilih jalan terjal, menghadapi risiko, bahkan tidak jarang harus menanggung tekanan sosial maupun politik.

Anehnya, waktu sering berpihak pada pembangkang. Ketika kebenaran mulai terungkap, ketika kesalahan yang dulu ditutupi mulai terbuka, suara pembangkang berubah menjadi referensi. Ia yang dulu disingkirkan, justru dikenang. Ia yang dulu dimusuhi, justru dicari. 

Keberuntungannya bukan datang dari keberpihakan kekuasaan, melainkan dari konsistensi pada nilai. Sementara itu, penjilat perlahan hilang dari ingatan. Ia hanya menjadi catatan kaki dalam cerita kekuasaan. Tidak penting, mudah digantikan, dan tidak pernah benar-benar dihormati. Karena pada akhirnya, manusia bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang sekadar mencari aman.

Opini ini bukan ajakan untuk selalu melawan, tetapi pengingat bahwa harga diri dan integritas tidak boleh ditukar dengan kenyamanan sesaat. Sebab dalam jangka panjang, sejarah lebih ramah kepada mereka yang berani berbeda, daripada mereka yang memilih tunduk tanpa suara.


DianWahyudi

SiAnakKampung

Komentar


Berita Terkini