IntenNews.com | Sumatera Utara - Ia bukan tuhan
Bukan pula ibu atau bapakku
Bukan juga ada darah yang mengalir sejalur sama dengan dalam tubuhku
Namun di matanya
Aku melihat rumah
Yang tak pernah menolak pulang
Rumah yang tak pernah terkunci buatku masuk kapan saja
Ia manusia
Yang tahu cara memanusiakan manusia
di dunia yang sering lupa caranya menjadi manusia
Salahkah aku menyebutnya manusia setengah dewa
Karena aku terlalu sering melihat Tuhan
hadir
Lewat kedua tangannya yang terulur tulus
Tiap-tiap katanya meneduhkan
Dari tiap-tiap pikirannya yang mengindahkan
Kehidupan ini serasa benar-benar ada Tuhan
Jadi salahkah aku
Jika dalam diam
Aku menaruh hormat setinggi langit
padanya
Karena dia menjadikan ku manusia
sepenuhnya manusia untuk manusia lain
Ia bukan Tuhan,
Tak pula ibu atau bapakku
Ia tidak bersayap
Tidak pula bercahaya
Namun kehadirannya
Cukup untuk membuat luka merasa dibalut
Dengan pelukan kasih sayang
Kedua tangannya begitu sempurna
Untuk terus hadir dan melahirkan kehangatan
Seolah kedua tangannya adalah penjelmaan kitab
Sehingga memperlakukan dunia tidak harus dengan kejam
Hanya karena status sosial atau keadaan
Ia adalah sosok manusia yang memberikan manusia seperti ku layak dipeluk oleh harapan
Bukan janji-janji sebagaimana janji manusia-manusia politik
Habis kampanye habis semuanya
Ia manusia yang tahu memanusiakan manusia
Jadi, salahkah aku?
jika kusematkan makna lebih dari sekadar manusia?, kepadanya.
Jika kusebut ia “cahaya”
di gelapku yang seringkali menelan logika
Sebab Tuhan yang tak kasat mata itu,
Sering terasa nyata lewat dirinya
Lewat langkah kecil yang tak pernah meminta balas
Lewat hati yang tak pernah lelah memberi
Jika menyebutnya dewa atau tuhan adalah dosa
Maka biarlah aku berdosa dalam diam
Karena di dunia yang sering kehilangan arah
Aku hanya menemukan Tuhan
berjalan
Melalui dirinya
Lewat tangan mungilnya
Ketulusan dan kesucian Tuhan itu kulihat nyata
SigondrongDalamDiam
23Maret2026
