IntenNews.com | Labuhanbatu, Disela - sela gegap gembiranya hati dan pikiran para mahasiswa dan mahasiswi Universitas LabuhanBatu bersama orang tuanya masing - masing yang akan mendapatkan gelar akademiknya. Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution, Ph.D selaku Rektor tersebut dalam pidato pembukaannya berkata, Seluruh hidup ini sebenarnya baik itu negara, personil itu metafora, simbolis, macam tadi sudah dibuat simbolis acara.
Pertama acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan pembacaan al quran, dilanjutkan lagi dengan pembacaan doa, terakhir ditutup dengan tarian persembahan (makan sirih). ini sebenarnya Simbolis terutama bagi wisudawan yang akan menghadapi dunia nyata itu simbolis. Artinya kalau kita rangkum semua ini pertama adalah kebangsaan dengan Indonesia Raya tadi kemudian diikat dengan Religi (agama).
Ternyata masih kurang masih harus lagi dibalut dengan Budaya. Budaya budaya apa terserah tergantung suku kita, karena setiap budaya suku kita pasti mengajarkan kebaikan, tidak ada budaya yang mengajarkan kejahatan, agama sama, budaya pasti mengajarkan kebaikan dan biasanya agama dan budaya itu lebih banyak jangannya daripada bolehnya.Tapi sebenarnya itulah yang mengajak kita bagaimana menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
*Apa itu Simbolis?
Merujuk pada kamus besar bahasa indonesia simbolis adalah sebagai lambang; menjadi lambang; mengenai lambang. Simbolis juga dapat diartikan makna tersembunyi atau makna yang tidak langsung yang terkandung dalam suatu objek, tindakan, atau kata yang berfungsi sebagai tanda atau representasi dari hal lain yang lebih luas atau mendalam. Makna ini tidak lahir secara alamiah tetapi dibentuk melalui kesepakatan sosial, budaya, atau konteks tertentu.
*Apa saja unsur-unsur simbolis?Unsur-unsur Simbolis
Simbol: Objek, gambar, kata, atau tindakan yang mewakili sesuatu yang lain.
Makna: Interpretasi atau pemahaman yang diberikan pada simbol tersebut.
Fungsi: Untuk menyampaikan ide, konsep, emosi, atau prinsip yang kompleks kepada orang lain, terutama melalui cara yang tidak langsung.
Secara tidak langsung di acara wisudawan tersebut jika di ulik lebih jauh dapat ditafsirkan sesungguhnya, bagi sang Rektor acara tersebut adalah acara pisah sambut kepada Mahasiswa dan Mahasiswinya. Jika direnung lebih dalam terhadap pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan atau Metafora. Yang beliau ungkapkan lewat Lagu Indonesia Raya, Pembacaan Alquran, Doa dan Tarian Persembahan.
Mengapa Ditafsirkan Pisah Sambut?
Isi pidato diawal sang Rektor yang beliau ungkapan yang metafora itu ada 4 poin makna yang tersirat
1.Lagu Indonesia Raya. 2.Pembacaan Kitab Suci. 3.Pembacaan Doa. 4.Tarian Persembahan
Keempat poin ini merupakan bahasa ibu yang menyatakan beliau sebagai seorang Rektor pada waktu itu adalah juga seorang Bapak. Sebagai Rektor hakiki nya memang beliau harus melepaskan mahasiswa/i karna telah selesai dalam prosesi belajarnya dan meraih gelar tetapi sebagai seorang Bapak yang mencintai anak-anaknya Beliau ingin anak-anaknya kembali, lewat:
1. Teruslas mencintai negeri ini. (Lagu Indonesia Raya). 2 .Belajar dan teruslah belajar diluar sana. (Pembacaan Kitab Suci *Al quran). 3. Jangan pernah menyerah karna bukan satu jalan ke Roma. (Pembacaan Do'a). 4. Berbuat sesuatu lah sekecil apapun itu untuk masyarakat. (tarian persembahan). Sungguh pesan moral yang sangat bijak bestari.
SigondrongDalamDiam
