IntenNews.com | Labuhanbatu - Di bumi yang dulunya pernah kerajaannya berjaya sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan dan maritim yang penting di pantai timur Sumatera Utara di abad ke-11, namun yang tertinggal kini hanyalah bahasanya dimana saat kini dicatat Unesco dengan kategori dari ratusan bahasa daerah di Indonesia ke dalam peta bahasa yang terancam punah yakni bahasa " Panai ". Namun sampai saat ini tiada upaya dan daya terhadap dialeknya untuk diselamatkan oleh pemerintah daerahnya dengan cara memasukkannya ke dalam daftar kurikulum sekolah agar revitalisasi bahasa Panai dapat lestari selamanya.
Di mana bumi dipijak disitulah langit dijunjung namun bagaimana jika buminya, tanahnya menahan luka seluka si miskin yang mencari sesuap nasi namun yang didapatnya hanyalah penghinaan ataupun selalu keadaan yang dipersulit. Demikianlah tanah ini, sejak tahun 1974 melalui peraturan daerah ditetapkan, maka dengan itu jugalah daerah ini secara otomatis melahirkan semboyan "Ika Bina Enpa Bolo” yang jika diartikan ialah "Ini dibangun/dibina dan itu diperbaiki ". Sampai saat ini, masih banyak ruas jalan yang saban musim menjadi keluh kesah masyarakatnya.
Namun ditangan pemimpi ini, yang sebelumnya mencalon telah pun penuh mimpi, hingga pemimpin tersebut dilantik, akhirnya pucuk dicinta ulam tiba. Terdengar juga kabar yang perlahan namun pasti menumbuh kembangkan harapan. Di mulai dari ruas jalan provinsi Aek Nabara, Negeri Lama, Tanjung Sarang Elang, sebelumnya jalan ini ditangan pemimpin yang tahunya hanya tidur, jalan-jalan ini bertahun-tahun seakan menjadi saksi bisu janji demi janji yang sering diucapkan oleh para peserta kontestasi pilkada di era reformasi yang kebablasan ini yang hanya selalu menjadi bagian wacana Ansorpoluang (Angin Sorga Politik Uang). Kini mulai mendapat perhatian nyata. Langkah yang mulai ditapakkan dengan anggaran besar dan kerja yang terlihat arah tujuannya ini. Ironisnya justru ditapakkan oleh kaki seorang pemimpin perempuan yang notabe-nya darahnya bukan asli kelahiran bumi Ika namun mungkin berkat air sungai bilah yang telah direguknya meskipun aslinya ia berasimilasi erat dengan identitas dan peradaban Melayu. Dan pemimpin itu adalah dr. Hj. Maya Hasmita, Sp.OG., M.K.M.
Sebagai masyarakat yang rindu perubahan nyata terhadap kampung ini dibangun/dibina dan itu diperbaiki maka saya memberi apresiasi kepadanya karena hanya di masa kepemimpinannya lah dimana sejak abad ke 11 hingga kini abad ke 21. Dan yang mana Kabupaten Labuhanbatu sudah berusia 80 tahun hanya beliaulah yang mampu mengetuk pintu perhatian Pemprov Sumatera Utara melalui gubernurnya Bobby Nasution terhadap jalan-jalan di Kabupaten Labuhanbatu yang berstatus jalan Provinsi yang selama ini terasa begitu sulit diwujudkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Bahkan terasa hampa selama ini diwujudkan lewat congor yang mengatasnamakan penyambung lidah rakyat di dalam gedung yang terhormat, Bukan karena rakyat tak pernah berharap, tetapi karena harapan itu terlalu lama dibiarkan menggantung berjawabankan hanya seutas janji-janji palsu.
Kini, sekitar Rp 158 miliar disiapkan untuk penanganan sepanjang 26 kilometer. Sebesar Rp60 miliar dialokasikan tahun ini (2026) untuk pengerjaan awal sepanjang 10 kilometer yang saat ini masih dalam proses tender dan direncanakan mulai berkontrak pada awal Juni. Semoga saja tendernya jatuh pada tangan yang amanah bukan ke tangan yang salah agar pada tahun 2027 nanti, akan dilanjutkan sepanjang 16 kilometer dengan anggaran mencapai Rp. 98,460 miliar. Ini bukan hanya tentang aspal dan batu. Ini tentang denyut kehidupan masyarakat. Tentang petani yang ingin hasil panennya cepat sampai ke pasar. Tentang anak sekolah yang mendambakan perjalanan lebih aman. Tentang roda ekonomi yang selama ini tersendat oleh jalan yang rusak dan janji kepala daerah hingga anggota Dewannya yang terlalu sering patah tulang namun badan segar bugar untuk entah apa-apa yang tak berguna.
Seperti pepatah Tionghoa, permulaan, ada penyelesaian". Maka dipastikan perjuangan untuk jalan mulus yang status jalan Provinsi ini tentunya belum selesai karena masih banyak ruas jalan status jalan Provinsi yang lainnya di Kabupaten ini menunggu disentuh dengan perhatian yang sama.
Sebagai masyarakat yang tak pala mengharapkan apakah ibu Bupati peduli atau tidak terhadap apresiasi ini yang terpenting adalah sangatlah diharapkan tidak berhenti sampai di sini apa yang telah terjadi. Karena keberhasilan hari ini sejatinya adalah awal dari rasa tanggung jawab yang akan menjadi membentuk tanggung azab di akhirat nanti terhadap janji "Menata Kota Membangun Desa ". Sebab jika berhenti dipastikan akan ada yang tetap menulis sampai membaca itu dilarang.
Di akhir kata tetap semangat memperjuangkan daerah yang miskin pembangunan infrastrukturnya ini dan tetap menyala hingga akhir masa jabatan yang cerdas bersinar agar tak ada lagi wilayah yang merasa dianaktirikan oleh pembangunan. Sebab seorang pemimpin bukan hanya dikenang dari kata-katanya saja melainkan dari jalan-jalan yang akhirnya bisa dilalui rakyatnya dengan senyum dan rasa syukur.
SigondrongDalamDiam
*Seniman Labuhanbatu*
