IntenNews.com | Labuhanbatu- Benarkah seni sudah mati?. Jika memang seni itu mati siapa yang membunuhnya dan dimana seni dikuburkan Seni lahir dari kegelisahan,seni tumbuh dari keberanian untuk mempertanyakan untuk mempertahankan kebenaran. Seni bukan lahir untuk mengganggu ketidaknyamanan, seni ada untuk menyingkap yang samar menjadi terang benderang sekali pun seni itu sering bersembunyi dibalik topeng kebaikan.
Namun hari ini, yang kita saksikan justru ironi besar: seni yang sering kehilangan ros kini perlahan-lahan kehilangan nyawanya, bukan karena dilarang secara terang-terangan, melainkan karena dibungkam oleh para intelektual yang memilih jalur penangkapan.
Ketika seniman takut bersuara lewat karya-karyanya itu tragedi nyata seni kehilangan ruhnya, Tetapi ketika kaum intelektual membenarkan ketakutannya akan seni itu bersuara maka secara teori yang mati bukan hanya seni, melainkan juga akal sehat publik,hari ini seni dimatikan karena larangan bersama para intelektual yang seharusnya menjaga api kebebasan memilih menjadi penjaga gerbang kekuasaan dengan membungkam kritik lalu mengutuk keberanian berseni itu sebagai ekstremisme dan menuduh suara-suara berbeda sebagai ancaman persatuan. Mereka tidak sadar bahwa setiap rezim yang antikritik selalu membutuhkan kelompok terdidik untuk memberikan legitimasi moral atas kesewenang-wenangan.
Penguasa lupa bahwa sejarah tidak pernah tercipta melainkan sejarah selalu berulang,penguasa lupa bahwa setiap kemajuan lahir dari keberanian untuk melawan arus,tidak ada karya besar yang tercipta dari kepatuhan total kepada kekuasaan. Dari puisi, teater, musik, hingga lukisan, seni selalu menjadi ruang perlawanan terhadap ketidakadilan.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian intelektual yang seharusnya menjadi penjaga nurani justru menjelma menjadi juru bicara kekuasaan. Mereka mengemas kepentingan politik dengan bahasa ilmiah, menghaluskan ketidakadilan dengan istilah akademik, dan menyebut kritik sebagai gangguan stabilitas. Dalam situasi seperti ini, seni tidak lagi berfungsi sebagai cermin kekuasaan melainkan menjadi dekorasi yang mempercantik wajah penguasa, pemberontakan dalam seni bukanlah ajakan untuk kekacauan, pemberontakan adalah keberanian moral untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah, seni adalah suara yang menolak tunduk ketika nurani dipaksa diam, seni bukanlah hanya produk hiburan yang kehilangan makna sosialnya.
Tapi hari ini para intelektual memilih mengubur seni yang tanpa batas untuk dipikirkan hanya karna seni tak mampu dijadikan alat propaganda pemuas penguasa, maka benar adanya ketika para intelektual lebih takut kehilangan privilese daripada kehilangan kehormatan, saat itulah seni benar-benar mati bukan karena dibungkam oleh penguasa melainkan karena dikhianati oleh mereka yang mengaku penjaga akal dan kebebasan, Seni telah dimatikan ketika kritik dianggap ancaman dan kepatuhan dipuja sebagai kebijaksanaan.
Mungkin inilah tragedi terbesar zaman ini, bukan karena terlalu sedikit orang pintar, melainkan karena terlalu banyak orang pintarnya memilih berlutut. Mereka menjual daya kritis demi kedekatan, menukar integritas dengan fasilitas, dan menggadaikan nurani demi posisi yang aman.
SigondrongDalamDiam
Seniman LabuhanBatu
