|


Ketika Orang Miskin Menemukan Tuhan

IntenNews.com | Labuhanbatu- Kemiskinan memang dapat membatasi langkah, tetapi tidak selalu mampu mematahkan cita-cita sebab sesungguhnya yang paling berbahaya bukanlah hidup dalam dalam kemiskinan melainkan ketika masyarakat yang kaya memilih menutup mata terhadap mereka yang sedang berjuang. 

Sebut saja Melati adalah salah satu contohnya seorang gadis yang terlahir dari keluarga yang hidup dalam serba kekurangan. Ayah di usia senja telah menjadi tunanetra sedangkan ibunya kini merupakan penyandang disabilitas begitupun juga saudara-saudaranya hidup dengan berbagai keterbatasan fisik namun di tengah keadaan yang tidak mudah itu, Melati memilih tidak layu sebelum waktunya, Melati memilih tidak menyerah, Melati memupuk harapan besar setelah lulus dengan susah payah tahun 2025 justru Melati memupuk cita-cita untuk meraih gelar sarjana, bukan demi kebanggaan pribadi semata, melainkan agar kelak mampu menjadi penopang ekonomi keluarganya. 

Impian itu terasa begitu jauh jika dilihat dengan mata telanjang yang memperlihatkan kondisi teramat sulit dalam keluarga Melati karna biaya kuliah bukan angka kecil bagi keluarga yang setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan paling mulia untuk mengubah nasib. 

Dan bukan hanya dengan keberanian yang dipaksakan yang ia sisipkan dengan senyuman dalam wajah desanya, Melati menyampaikan surat terbuka melalui sebuah video.; Bukan surat terbuka layaknya aktivis yang terlanjur kepintaran yang penuh dengan tuntutan atau dengan kalimat puitis berujung ancaman. Melodi hanya mempertontonkan kesehariannya bersama keluarga yang ia cinta dengan sisipan memohon kesempatan untuk belajar di Universitas Labuhanbatu Tanjung Sarang Elang. 

Video itu kemudian sampai kepada Assoc.Prof, Ade Parlaungan , Ph.D , dimana saat ini beliau diberikan amanah sebagai rektor yang menurut Webometrics 2026 berada pada peringkat ke-8 terbaik di Sumatera Utara ,Peringkat ke-8 terbaik di Sumatera Utara (seluruh perguruan tinggi) dan Peringkat ke-5 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik di Sumatera Utara (seluruh perguruan tinggi). Alih-alih bukan hanya sekedar merasa iba, sang rektor memilih bertindak, Beliau membuka pintu kampus dan memberikan beasiswa agar Melati dapat melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana. 

Apa yang dilakukan sang rektor Assoc. Prof. Ade Parlaungan Nasution, Ph.D. menjadikan pendidikan menemukan wajah kemanusiaan dikarenakan sejatinya kampus bukan hanya tempat mencetak lulusan, tetapi juga tempat melahirkan harapan, keputusan sang Rektor berdasarkan nurani itu telah mengubah masa depan satu anak dengan segala keterbatasan menjadi mahasiswa merupakan wujud nyata mengangkat martabat satu keluarga. 

Beasiswa bukan sekadar bantuan biaya melainkan sebuah pesan yang mengatakan, " Kami percaya bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh keadaan lahir, melainkan oleh kemauan untuk terus berjuang dan terus berjuang ". 

Kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa orang miskin menemukan tuhan maka orang miskin tidak membutuhkan belas kasihan yang berlebihan. Orang miskin hanya membutuhkan kesempatan yang setara untuk memperbaiki ekonominya di masa yang akan datang. 

Semoga langkah mulia sang rektor menginspirasi lebih banyak perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk bergandengan tangan membuka jalan bagi anak-anak Indonesia yang memiliki mimpi besar tetapi terhalang oleh keadaan. 

"Ketika orang miskin bertemu tuhan, Kemiskinan itu menjadi anugerah. Saat orang miskin disapa tuhan, Kemiskinan itu berubah menjadi keindahan "

SigondrongDalamDiam

Seniman LabuhanBatu

Komentar


Berita Terkini