|


Morsa 2026 Yogyakarta Panggung Orang-Orang Gila Merawat Kebudayaan

Foto : Bambang Oeban dan Joko Pranoto
IntenNews.com | Yogyakarta
- Di tengah derasnya arus budaya populer yang kerap menggeser ruang-ruang kesenian yang reflektif, kehadiran MORSA Event 2026 menjadi penanda bahwa seni Indonesia masih memiliki denyut yang kuat dan bertemu dalam satu ruang yang saling menghidupkan dan menghidupi. Morsa Event 2026 bukanlah hanya sebuah pertunjukan seni melainkan sebuah lintas panggung yang disiplin mempertemukan musisi, penyair, budayawan, akademisi, artis teater dari pegiat seni dari berbagai generasi dalam satu panggung kebudayaan,Morsa adalah salah satu peristiwa budaya di abad ini di tanah air. 

Morsa merupakan akronim dari Musik Tradisional,Orkestra dan Sastra menghadirkan kolaborasi berbagai cabang seni, mulai dari musik tradisional, orkestra, pembacaan puisi, teater, seni visual, hingga pertunjukan multimedia yang keseluruh unsur tersebut dirangkai menjadi sebuah pertunjukan yang menampilkan harmoni antara tradisi dan ekspresi seni kontemporer. 

Gagasan MORSA itu sendiri untuk pertama kali lahirnya dari kolaborasi penyair Joko Pranoto bersama Sutradara Bambang Oeban. Konsep pertunjukan ini berangkat dari perjalanan kreatif Joko Pranoto yang ingin mengusung konsep " Saya butuh yang gila.” Sesungguhnya konsep ini bukan ajakan untuk kehilangan kewarasan. Sebaliknya, "gila" di sini merupakan metafora keberanian berpikir melampaui batas-batas kebiasaan, keberanian melawan stagnasi, dan keberanian melahirkan karya-karya baru dan konsep ini jugalah melahirkan dua buku puisi berjudul "Yang Kutitipkan Kepada Langit dan Negeri Retak". 

Yang menarik pertunjukan MORSA 2026 bukan hanya menglahirkan semangat kebersamaan di antara para seniman melainkan mampu menghadirkan kreativitas tanpa batas bernama seni sebagai panggung hiburan semata tetapi mampu menyeret ke dimensi intelektual melalui kehadiran Prof.Dr.M. Baiquni.M.A., Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, serta Prof.Dr. Yudiaryani, M.A.,Guru Besar ISI Yogyakarta.Hal ini menunjukan pentingnya peran seni dan kebudayaan dalam kehidupan masyarakat 

Pembukaan acara melalui lantunan sholawat bernuansa reggae oleh Alin Bin Adam menjadi simbol bahwa keberagaman ekspresi mampu hidup berdampingan tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual setelah itu, panggung bergeser menghadirkan berbagai ekspresi artistik yang saling melengkapi satu sama lain seolah menutupi celah yang gila terhadap yang waras dan membuka lebar-lebar yang waras untuk mempertahankan kegilaan guna merawat kebudayaan nusantara lewat jalannya sendiri 

Deretan penyair nasional, pelaku teater, seniman lintas generasi, hingga Teater Tunanetra memperlihatkan bahwa panggung seni adalah ruang inklusif. Tidak ada sekat usia, latar belakang, maupun keterbatasan fisik yang berbicara melainkan karya, gagasan, dan kejujuran. 

Di sinilah letak pentingnya MORSA merawat kewarasan mempertahankan kegilaan mengingatkan bahwa kebudayaan tidak akan berkembang melainkan harus dapat diwariskan melalui kolaborasi kejujuran seni yang melahirkan kesadaran baru. 

Dalam pandangan penulis, MORSA layak disebut sebagai salah satu peristiwa budaya penting Indonesia pada dekade ini. Bukan semata karena megahnya penyelenggaraan atau banyaknya tokoh yang hadir, melainkan karena keberhasilannya mempertemukan berbagai disiplin ilmu dan seni dalam semangat yang sama: membangun kebudayaan Indonesia yang merdeka sejak dari pikiran.

SigondronDalamDiam

Seniman LabuhanBatu

Komentar


Berita Terkini