IntenNews.com | Setiap tanggal 1 Juni dan 1 Oktober, bangsa Indonesia kembali diingatkan tentang pentingnya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi pemersatu bangsa. Upacara digelar, pidato disampaikan, dan slogan tentang Pancasila kembali menggema. Namun pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah nilai-nilai Pancasila masih benar-benar hidup dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, atau hanya menjadi rutinitas seremonial tahunan?
Kesaktian Pancasila sejatinya bukan terletak pada banyaknya spanduk yang dipasang atau meriahnya upacara yang dilaksanakan. Kesaktian Pancasila terletak pada kemampuannya menjadi pedoman dalam setiap kebijakan, keputusan, dan perilaku para penyelenggara negara maupun masyarakat.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kejujuran dan moralitas. Namun berbagai kasus korupsi masih terus terjadi. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia, tetapi ketimpangan sosial dan ketidakadilan masih dirasakan banyak rakyat kecil. Sila Persatuan Indonesia mengingatkan pentingnya menjaga kebersamaan, namun polarisasi dan konflik sosial masih kerap muncul di tengah masyarakat.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan mengandung makna bahwa kekuasaan harus berpihak kepada rakyat. Namun seringkali suara rakyat hanya didengar menjelang pemilu, lalu perlahan terlupakan setelah kursi kekuasaan diraih. Sedangkan sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar ketika jurang antara yang kaya dan miskin semakin terasa.
Refleksi Kesaktian Pancasila bukanlah tentang mengenang masa lalu semata. Refleksi adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Sudahkah para pemimpin menjadikan Pancasila sebagai kompas dalam menjalankan amanah rakyat?
Bangsa ini tidak kekurangan hafalan tentang Pancasila. Yang masih dibutuhkan adalah keteladanan dalam menjalankan nilai-nilainya. Sebab Pancasila akan tetap sakti bukan karena diperingati setiap tahun, melainkan karena dijalankan secara konsisten dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penutup:
"Pancasila tidak membutuhkan pujian berlebihan untuk tetap sakti. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengamalkan nilai-nilainya, terutama oleh mereka yang diberi amanah memimpin negeri." ✍️🇮🇩
(Dian)
.png)