|


Kursi Empuk Sang Pengibas Ekor *Monolog ngAbdi Pohon

IntenNews.com | Labuhanbatu - Panggung gelap, cahaya lampu sorot perlahan mulai menyala menyoroti sebuah kursi mewah. Di atas panggung seorang lelaki berpakaian aparatur sipil negara lengkap berdiri mengelus sandaran kursi itu dengan lembut dan senyum siput) 

Dulu...

Ya..dulu sekali

Ia ini bukan siapa-siapa

Cuma pegawai biasa di pojokan ruangan yang baunya apek layaknya tumpukan berkas usang dimakan rayap

Ia absen pagi, pulang sore, begitu terus sampai lumutan

Sampai tiba masanya musim pemilihan lima tahunan tiba

Jika mau mengandalkan otak, Ah,ia lebih banyak meninggal otaknya daripada dibawa,jadi ia menggunakan lidahnya untuk menjilat calon pemimpin di negeri ini.Karena ia tahu betul hanya satu keahlian yang akan cepat sampai pada jabatan yang diinginkan yakni dengan seni menyenangkan hati atasan.  

(Tertawa kecil, berjalan mengitari kursi) 

Birokrasi itu seperti tangga yang licin. Kalau kau memanjat pakai tangan kosong, kau akan jatuh. Tapi kalau kau punya "pelicin" yaitu pujian yang pas di telinga bos, anggukan kepala yang mantap setiap mereka bicara, tahu kapan harus membawakan tasnya, tahu warna kesukaan istrinya... Ah! Tangga licin itu berubah jadi eskalator. Coey. 

Dan lihat aku sekarang. Melesat! dari pegawai negeri tanpa nama, tiba-tiba duduk manis menjadi pegawai negeri, sebagai Kepala Dinas Pembangunan Desa. Hebat, kan? Padahal, jangankan membangun desa, membedakan cangkul dan sekop saja aku kadang tertukar. Tapi jabatan mana butuh keahlian? Jabatan itu butuh kedekatan. 

(Tertawa lepas... Mondar-mandir, nada suaranya berubah agak gusar) 

Tapi ya... namanya juga duduk di kursi yang bukan ukuran kita. Di Dinas Desa, anginnya kencang sekali menghajar. Tiba-tiba muncul isu liar. Katanya, warga yang mau jadi Kepala Dusun harus "menyetor" lewat pintu belakang ke meja saya.Katanya kunci jawaban soal ujian aku perjual belikan,Bagh...! Tuduhan yang kejam. Mereka bilang itu pungli. Padahal... mereka saja yang tak mampu mengungkapkan itu biaya administrasi kelancaran hajat hidup yang ingin jalur cepat? Tapi sudahlah, badai itu bagiku cuman taik kucing di telapak kakiku yang lengket alias badai itu tetap membuatku mampu berjalan tegak tanpa muka tembok.Sebab lidahku ini masih sakti. Dengan sedikit manuver, sowan ke sana-kemari, membawa "buah tangan" yang tepat untuk para petinggi, membuat diriku jadi Anjungan Tunai Mandiri berjalan, aku diselamatkan dan terselamatkan.Bukan dipecat, atau digeser.Bahkan karna bagiku sumber uang di dinas desa itu sudah tak ada lagi.Dengan lidahku yang lihat menjilati atasan dan aku minta dipromosikan....? 

(Duduk di kursi, menyilangkan kaki dengan angkuh) 

Selamat datang di Dinas Pendidikan!.Coey.inilah Jabatan baru ku sekarang.ini lahan baru lahan basah,Di sini, aku mengurusi masa depan bangsa, Padahal sebenarnya Lucu sekali. Aku, orang yang tidak tahu apa-apa tentang kurikulum, disuruh memimpin ribuan guru dan kepala sekolah.tapi inilah jabatan dalam lingkup aparatur negeri sipil tak penting latar belakang untuk menjadi kadis. Contohnya aku yang gelar akademik Hukum dulu memimpin Desa kini pemimpin pendidikan. Ini semua berkat ilmu menyenangkan atasan dan lancarnya setoran maka jadilah seperti apa yang yang kuinginkan. 

(Hemmm...Menghela napas panjang) 

Tapi dasar sial, Padahal sudah sedemikian rapi namun masih saja tercium,sekarang di Dinas Pendidikan, mereka meniupkan peluit lagi. Isunya lebih ngeri: "Kadis Pendidikan minta fee proyek rehabilitasi sekolah." Mereka bilang aku memotong anggaran fiktif, meminta persenan dari kontraktor yang mau membangun ruang kelas.Apa mereka gak mikir, kalau mereka jadi aku uang pulsa itu dari mana kusiapkan untuk para atasan. 

(Berdiri tiba-tiba, memukul sandaran kursi. Nada suara meninggi, frustasi tapi berusaha membela diri) 

Apakah salah?.Kenapa ributkan babi-babi itu mempermasalahkannya?! Aku hanya mengambil apa yang ada di depan mata! Kalau mau minta bagian bilanglah biar kubagi. 

(Perlahan terdiam, memandangi sekitar,Suasana panggung menjadi sunyi, nada suara melandai menjadi getir dan rapuh) 

Jangan kalian pikir aku akan masuk ke ruangan sunyi,merenung lalu sadar dan meminta ampun pada Tuhan. Bagiku jabatan adalah Tuhan. Karna aku si manusia ngAbdi Pohon yang ahli untuk mengibas ekor.

Aku punya pangkat, aku punya kuasa, aku punya harta... tapi aku tidak punya harga diri. Aku memimpin pendidikan, tapi aku sendiri adalah contoh manusia yang tidak terdidik. Aku membangun desa, tapi sebenarnya aku sedang meruntuhkan peradaban. 

(Tersenyum bangga,menatap ke arah penonton) 

Kalau kalian ingin sepertiku,aku siap mengajari kalian bagaimana seutuhnya menjadi manusia ngAbdi Pohon 

(Lampu perlahan mulai meredup hingga akhirnya panggung menjadi gelap gulita)


SigondrongDalamDiam

13Mei2026

Komentar


Berita Terkini