|


Ternyata Bersih Itu Bukan Putih

IntenNews.com | Medan - Masjid dibangun dari kepercayaan. Batu bisa disusun siapa saja, tapi amanah hanya bisa dijaga oleh yang jujur. Ketika jamaah bertanya soal pembangunan, tentang dana, tentang arah, tentang pertanggungjawaban, itu bukan gangguan. Itu tanda bahwa kepercayaan masih hidup.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pertanyaan dianggap ancaman. Transparansi diperlakukan seperti serangan. Dan yang paling peduli, justru didorong menjauh. Lalu ironi itu muncul tanpa malu: yang perlahan tidak lagi hadir di masjid… justru mereka yang dulu paling depan mengurus pembangunannya.

Yang dulu berdiri di barisan panitia, kini hilang dari saf. Yang dulu bicara amanah, kini menghindari tatap muka. Seolah bangunan sudah selesai, tapi tanggung jawab ikut ditinggalkan. Ini bukan soal lupa. Ini soal menghindar.

Karena lebih mudah menjauh daripada menjawab. Lebih nyaman menghilang daripada membuka catatan. Dan lebih aman membuat framing daripada menghadapi fakta.

Sementara itu, jamaah yang tetap datang justru harus menelan tuduhan. Dicap macam-macam, bahkan direndahkan dengan istilah yang tak pantas, seolah meminta kejelasan adalah sebuah dosa.

Padahal sederhana saja: kalau semuanya bersih, kenapa harus menghindar? Kalau amanah terjaga, kenapa takut bertemu jamaah? Masjid tidak pernah menolak siapa pun.

Tapi kejujuran sering membuat sebagian orang memilih pergi. Dan di titik ini, kita belajar satu hal penting: bersih itu bukan soal siapa yang paling sering terlihat di depan, tapi siapa yang tetap berani hadir ketika diminta pertanggungjawaban. Karena yang benar-benar bersih, tidak akan lari dari pertanyaan. Tidak akan bersembunyi di balik tuduhan. Dan tidak akan meninggalkan masjid… hanya karena takut pada kejujuran.

DianWahyudi

SiAnakKampung

Komentar


Berita Terkini