|



Paradigma Dana Hibah yang Selalu Aman di Atas Kertas Meski Sunyi Sepi Mencekam Kegiatan

Foto : Ini Si KiMak nya
IntenNews.com | Labuhanbatu
- Hingga kini di negeri bersinar entah apanya, setiap laporan dirapikan dengan retorika uang pelicin agar map-map itu berstempel resmi laporan “Dana Hibah” salah satu contohnya perampokan terhormat di meja audit. Namun compang-camping ketika diseret ke ruang kenyataan, lebih banyak tekenan dari pada kegiatan. Jadi jangan heran jika penerima dana hibah itu seperti Lembaga atau organisasi berbadan hukum, Ormas, Lembaga Kebudayaan, Dewan Kesenian, Organisasi Kepanduan seperti Kwartir Pramuka, Kepemudaan dan Keagamaan. Interpretasi penerima “Dana Hibah” merupakan organisasi yang kegiatannya selaras dengan visi pembangunan di daerah akan dinyatakan tidak bermasalah oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Dari tahun ke ketahun tak ketahuan perampokannya sebab diawali dengan rapi mengajukan proposal kegiatan menandatangani “Naskah Perjanjian Hibah” dan menyatakan kesanggupan melaksanakan kegiatan sesuai proposal, maka memenuhi syarat administratif lolos dalam audit berbasis dokumen walau tidak menjalankan kegiatan secara nyata. Akibatnya, dana hibah terlihat aman di atas kertas karena kontekstual laporan perampok disesuaikan dengan pengauditan. 

Jika sudah begitu di pastikanlah dikubur dalam-dalam dengan segala penghormatan. Jika syarat penerima hibah itu wajib memiliki kegiatan yang sejalan dengan visi dan misi pemerintah yang berkuasa sedang berlangsung dan hal ini telah jauh dikubur di masa-masa sebelum masa menata Kota membangun Desa. Dimulai pertama kali digaungkan lalu dimasa Tisu Bangkit berlanjut di masa Padi satu tekad membangun hingga menjalar pada Eranya enaki rakyat dengan membolo dan kini kembali lagi ke masa Menata Kota membangun Desa. Dana hibah itu harusnya memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas namun faktanya “Dana Hibah” itu telah berubah menjadi dana untuk kepentingan pribadi, kelompok golongan terbatas sebagai balas jasa kepentingan politik masa lalu yang dirancang untuk kepentingan politik masa depan bukan untuk kepentingan publik. 

Lantas menjadi mempesonakah “Dana Hibah” yang oleh Badan Pemeriksa berpaten kondisi baik tetapi ketika disentuh Kejaksaan justru muncul temuan? Apakah ihwal baik kebenaran telah memiliki dua wajah, ataukah hal ini hanyalah penampakan pemuja kertas karena ada laporan baru dikerjakan. Karena yang dilaporkan tidak kunjung setoran ataukah hanya agar ada laporan ditengok bekerja atau memang benar-benar ini kerjaan. Karena panggilan moralitas yang ingin menyelamatkan uang rakyat dari perampok terhormat. 

Badan Pemeriksa Keuangan dan Kejaksaan adalah dua lembaga yang berbeda memandang kebenaran. BPK bekerja dalam terang benderang administrasi. Tugasnya diatur jelas dalam Konstitusi dan undang-undang: memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara. Audit BPK adalah audit kepatuhan prosedur dokumen dan kelengkapan, apakah laporan sesuai aturan. Selama proposal ada naskah perjanjian hibah ditandatangani, laporan pertanggungjawaban disusun, dan bukti administratif disiapkan, maka hibah dapat dinyatakan aman. Aman secara prosedur. Aman secara kertas. Walaupun itu sebenarnya dirampok. Namun Kejaksaan tidak hidup di dunia yang sama. Ia bergerak di ranah penegakan hukum, bukan penataan arsip. Kejaksaan bertanya bukan sekadar apakah laporan ada, melainkan apakah kegiatan benar-benar terjadi. Di sanalah jarak antara kertas dan kenyataan mulai menganga seperti luka percintaan yang bertepuk sebelah tangan atau diajak mantan balikan setelah dihina-dinakan. 

Sepertinya biasa saja tidak mempesonakan jika Kejaksaan ada temuan “Dana Hibah” menyeleweng penggunaannya walau karena realitasnya “Dana Hibah” itu terus saja reinkarnasi. Dimata telanjang masyarakat hingga paham ada “Dana Hibah” tetapi sunyi sepi mencekam kegiatan namun selalu rapi nan indah nyaman terkendali dalam laporan pertanggungjawaban. Audit administratif dinyatakan aman karena dinilai bukan denyut kegiatan, melainkan denyut jantung penerima hibah dipandu birokrasi agar selamat dan aman. Dan itulah mengapa di negeri Ika Nan Idaman Ngidamnya bersinar. Entah apanya kebenaran seringkali tertutupi oleh kebohongan administrasi yang terlalu rapi untuk dicurigai. 


SigondrongDalamDiam

*Seniman LabuhanBatu*

Komentar


Berita Terkini