*Ilustrasi gambar dalam tulisan hanyalah pemanis tulisan yang dibuat penulis dengan tujuan menumbuhkan minat baca tidak ada maksud lain.
IntenNews.com | Labuhanbatu - 25 Januari 2026, Di sebuah negeri yang bersemboyankan Tekun Berkarya, Hidup Sejahtera, Mulia Berbudaya bernama Negeri Semua Urusan Memakai Uang Tunai disingkat SUMUT, ada pohon beringin tumbang bukan karena bencana banjir tapi memang sengaja ditumbang. Sehingga kini pohon beringin tumbang itu menjadi rebutan. Ada 2 tokoh yang memperebutkan pohon beringin itu, kedua tokoh ini adalah anak Apak. Artinya hanya netek pada ibu selebihnya Apaklah yang berperan membesarkan. Keduanya Sama-sama pernah dua kali jadi pejabat, keduanya juga sekarang masih menjabat dan keduanya sama-sama dermawan kalau ada maunya.
Sebut saja kedua tokoh yang berebut pohon beringin tumbang itu untuk diolah jadi kursi si Ngandar dan Ngendrik. Keduanya mengklaim dapat dukungan dari cabang pohon beringin tumbang. Yang unik dari keduanya Apak-apak kedua-duanya pun ada kesamaan, sama-sama pernah menjabat dua kali dan sama-sama pencetus pemekaran, cuman bedannya Apak si Ngendrik Kabupaten dan berhasil mekarnya tetapi Apak si Ngandar Provinsi dan ini belum mekar-mekar alias masih kuncup. Menariknya lagi kedua Apak mereka ini sama-sama dikenal dermawan cuman kalau Apak si Ngendrik sudah tak diragukan se Kabupaten dimekarkannya karena kemauannya menguasai. Dan Apak si Ngandar juga tak tanggung-tanggung dermawannya sesuka hatinya karena ada kemauannya berkuasa. Intinya tak pakai pulut tentunya kedua Apak mereka berdua sama-sama tokoh yang mainnya kebanyakan di pusat daripada di pantat. Ya.. walau pada akhirnya tetap saja mempertahankan bagaimana supaya pantat dapat duduk dan duduk dan duduk. Dan sipat Apak-apak mereka Ini pastilah temurun turun kepada kedua-duanya sebagai agen perubahan judulnya tapi sesungguhnya sebagai alat mempertahankan kekuasaan keluarga. Ibarat kata pepatah buah tak jatuh dari rindang pokoknya kalau pun ada buah yang jatuh tak di bawah rindang pokoknya berarti buahnya itu diragukan dengan pokoknya.
Karena keduanya sama-sama punya kesamaan sampai-sampai mimpi keduanya pun bisa sama. Suatu malam di tengah lelahnya mimpi berebut kursi mereka berdua bermimpi dan dalam mimpi itu keduanya melihat sebuah kunci emas yang tegeletak menggoda di meja penderitaan rakyat jelantah yang telah memberikan amanah dengan suaranya.
Ngandar menatap kunci itu sambil berkata, “Ini hak saya. Saya anak Apak. Dan saya adalah orang yang sekali jadi bupati sekali jadi Walikota. Pengalaman saya lengkap dengan segala sertifikat.”
Ngendrik langsung membalas, “Lho, saya juga anak Apak. Saya juga dua kali jadi pejabat.”
Ngandar mengernyit, “Tapi saya lebih dulu jadi pejabat yang menandatangani.”
Ngendrik tersenyum tipis, “Tapi saya lebih pejabat yang pegang stempel.”
Keduanya saling menatap. Tak ada yang mau mengalah. Dua rakyat kecil yang sedang melintas dan mendengar keributan mereka berdua salah satunya berkata.
“Yang satu pelit, yang satu juga pelit. Yang satu merasa paling berjasa, yang satu merasa paling berhak. Seorang rakyat kecil satunya lagi menyahut dengan santai.
"Yang satu pesanan penguasa, yang satu pesanan yang berkuasa. dua-duanya lupa kalau kunci itu bukan harus sejodoh dengan gemboknya bukan dengan pintunya".
Akhirnya, kunci emas tetap di atas meja. Sampai akhir sipat yang diturun temurunkan Apak-apak mereka berdua yang dibantu donatur di belakang Apak-apak mereka yakni sifat dermawannya kalau ada maksud tujuan yang akan membeli kunci emas untuk membuka pintu yang dikuasai berupa kursi dari pohon beringin tua.
SigondrongDalamDiam *Seniman LabuhanBatu*
*Tulisan ini hanyalah hiburan semata tidak ada maksud lain apabila ada kesamaan tokoh serta kejadian semata-mata hanyalah kebetulan
