IntenNews.com | Labuhanbatu,
Dari gerbang kampus harapan itu menyatu
Pada penderitaan rakyat, Lalu...
Demokrasi itu lahir, di depan istana negara di halaman gedung penyambung lidah rakyat dengan satu teriakan
"Turunkan !"
Ada baju yang robek, celana yang koyak pelipis yang pecah dan ada kepungan gas air mata
Ada pentungan memukul tubuh, ada tentang sepatu yang mendarat dimana-mana hingga ada tubuh yang rebah di aspal sampai ada nyawa melayang
Demokrasi yang lahir itu menjadi reformasi
Namun hari ini, gemuruh itu hendak diredam
Oleh palu-palu rapat di ruang legislatif
Dimana yang duduk tak pernah merasa rakyat
Dimana yang duduk semuanya merasa pejabat
Dengan wacana pemilihan kepala daerah melalui keterwakilan parlemen
Parlemen mengunci demokrasi dari dalam
Dan santun untuk memperkosa hak-hak politik rakyat
Inilah yang dikatakan bung Kusno dengan penjajah bangsa sendiri
Yang akan datang tidak membawa senjata, tetapi membawa dalih efisiensi, stabilitas, dan tata kelola.
Bahasa yang tampak rapi dan terhormat
Bahasa pejabat yang terbiasa kerja dengan membuat laporan bukan dengan membuat kerja nyata yang dinikmati rakyat dengan hikmat
Penjajah itu sembunyikan dalam butir musyawarah mufakat pancasila demi niat memindahkan kedaulatan
dari tangan rakyat
ke saku-saku partai politik
Walau Mahkamah Konstitusi telah berbicara.
Putusannya jelas:
demokrasi pasca Reformasi adalah demokrasi yang memberi hak memilih
langsung kepada rakyat.
Mengabaikannya itu berarti bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pembangkangan terhadap nurani konstitusi
Harusnya diseret ke meja pengadilan dan disidangkan dengan tuduhan sebagai pengkhianat yang berniat menjajah bangsa sendiri dengan memundurkan kembali demokrasi yang dilahirkan dari reformasi
Sebab, ketika rakyat tidak lagi memilih,
Maka pemimpin tidak lagi mendengar
Pemimpin memang berunding,namun perundingan itu hanya membuahi pemimpin menjadi berhutang
Dan utangnya bukan pada rakyat melainkan pada partai, fraksi, dan kompromi gelap di balik meja tak pernah tercatat dalam berita acara sidang
Dulu, aku pernah hidup dalam demokrasi yang diwakilkan dan aku tahu bagaimana akhirnya kekuasaan yang dihasilkan mengeras membatu angkuh tak tersentuh keberpihakan kepada rakyat
Boro-boro kemajuan satu daerah akan terlihat tapi kalau kesejahteraan untuk keluarganya dan partai politik yang mewakili pemimpin itu dalam keterwakilan jangan tanya kemajuannnya
Luar biasa mewahnya mengalahkan raja-raja pernah berkuasa di nusantara
Turun temurun kemajuan kesejahteraannya.
Kritik menjadi tabu
Dan rakyat dipaksa belajar takut pada negara yang seharusnya melindungi
Sampai reformasi itu hadir untuk memutus rantai itu.
Bukan untuk dirangkai ulang dengan alasan zaman berubah.
Pada hal ini hanyalah intrik pat gulipat jilat pantat kekuasaan yang dibungkus dengan kata Musyawarah untuk mufakat
Beradab jadi biadab
Mengapa bisa beradab jadi biadab?
Karena jika hari ini pemilihan kepala daerah
ditarik kembali ke tangan legislatif
Akan menghasilkan kekuasaan tanpa mandat dari rakyat melainkan hadiah dari partai politik yang akan berakhir pada kezaliman
Dan ini harus ditulis bukan hanya tentang kemunduran demokrasi Pancasilanya dengan tinta pengkhianatan
Bukan juga ditulis dengan hanya pada pelanggaran konstitusi
Tetapi pada ingatan kolektif bangsa yang kebablasan menafsirkan musyawarah untuk mufakat
Dengan mengesampingkan jauh-jauh keadilan sosial
Demokrasi memang mahal juga melelahkan serta penuh dengan kegaduhan dan sering mengecewakan
Namun hanya dengan hal itulah rakyat masih diakui sebagai pemilik negeri
Hak rakyat tidak tinggal prasasti atas nama keterwakilan
SigondrongDalamDiam
8Januari2025
