IntenNews.com|-LABUHANBATU, – Aksi pengusiran terhadap Kepala Puskesmas Tanjung Haloban, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu, Susiani, S.KM., M.M., oleh sekelompok Aparatur Sipil Negara (ASN) viral di media sosial dan memicu kemarahan warga. Peristiwa terjadi Rabu, (29/07/2026).
Dalam video yang beredar, terlihat seorang tenaga medis berinisial J Silalahi bersama beberapa ASN lainnya mengusir orang nomor satu di Puskesmas itu agar keluar dan meninggalkan ruang kerjanya.
Situasi kian panas ketika seorang pria berkaos kuning yang diduga suami J Silalahi ikut terlibat adu mulut dengan seorang pria berkaos hitam yang merupakan kekasih Susiani. Dengan nada tinggi, suami J Silalahi turut menolak kehadiran Susiani sebagai Kepala Puskesmas.
“Ini Pelanggaran Etik ASN"
Warga Desa Tanjung Haloban menyayangkan keras aksi tersebut. Seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan menyebut tindakan itu mencoreng nama baik ASN.
"Tindakan seperti itu sangat buruk dilakukan oleh ASN. Itu pelanggaran etik. Apalagi suami bidan yang bertugas di puskesmas itu ikut campur menolak Kapus menjalankan tugas. Persoalan internal pemerintah, suami kok ikut campur. Memalukan," ujarnya.
Menurutnya, negara ini negara hukum. Jika ada dugaan pelanggaran oleh Kapus, seharusnya diproses secara hukum, bukan dengan cara main hakim sendiri.
"Kalau kebijakan Kapus kurang arif, laporkan ke Kadis Kesehatan, Inspektorat atau Bupati. Jangan main usir secara radikal. Mereka itu abdi negara, panutan masyarakat. Selesaikan secara regulasi, bukan cara anarki," tegasnya.
Diduga Ada Ambisi Jabatan dan "Dalang" di Balik Layar
Sumber itu juga membongkar adanya isu tak sedap yang sudah lama beredar. Diduga ada ambisi dari oknum ASN di internal puskesmas yang ingin menduduki jabatan Kepala Puskesmas.
"Saya tidak punya kepentingan. Tapi saya nilai ini sarat kepentingan. Tidak semata karena isu pemotongan anggaran. Ada indikasi ditunggangi pihak ketiga yang berambisi jadi Kapus," ungkapnya.
Isu makin liar setelah video pertama viral. Disebut-sebut ada keterlibatan seorang anggota dewan di balik kericuhan tersebut.
"Kita lihat saja nanti. Kalau Kapus dicopot dan penggantinya adalah ASN yang bertugas di puskesmas itu juga, berarti isu itu benar adanya," katanya.
Senada, seorang tokoh masyarakat Tanjung Haloban meminta Pemkab Labuhanbatu segera turun tangan.
"Pemkab harus bertindak cepat agar reda. Kami ikut malu, desa kami viral karena hal buruk di medsos," pungkasnya.
“Jeni Itu S2, Tapi Sikapnya Tidak Mencerminkan"
Sumber lain menyoroti Jeni Silalahi yang disebut sebagai bidan senior dan bergelar S2 di Puskesmas tersebut.
"Jeni itu S2, tapi sikap dan tindakannya tidak mencerminkan orang berpendidikan tinggi," cetusnya.
Ia juga menilai pengusiran itu sama saja dengan menolak keputusan Bupati Labuhanbatu.
"Jabatan Kapus berdasarkan SK Bupati. Dia diusir oleh bawahannya, sama saja ASN itu menolak keputusan Bupati. Suka atau tidak suka, hanya Bupati yang berhak mencopot," tegasnya.
Tanggapan Kapus: Biar Hukum yang Buktikan
Saat dikonfirmasi, Susiani, S.KM., M.M. menegaskan dirinya masih sah menjabat berdasarkan SK Bupati.
"Saya masih sah menjabat sebagai Kapus berdasarkan SK Bupati. Soal tuduhan itu biar proses hukum yang membuktikan," jawab singkat Susiani.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Kesehatan dan Inspektorat Kabupaten Labuhanbatu terkait kericuhan tersebut.(Red/R).
